INJIL KARANGAN MATIUS

Cahaya iman tersebut dan garis-garis besar Mrk mudah diketemukan kembali dalam injil karangan Matius. Tetapi tekanannya berbeda. Rangka Mat berlainan dari rangka Mrk dan lebih berbelit-belit. Ada lima “buku” kecil yang susul-menyusul; masing-masing terdiri atas sebuah wej;angan yang didahului dan disiapkan dengan beberapa kejadian yang dipiliih dengan tepat. Bersama dengan kisah masa muda Yesus dan kisah sengsara kebangkitan kelima “buku” tersebut menjadi suatu keseluruhan seimbang yang terbagi menjadi tujuh bagian. Boleh jadi kerangka susunan tersebut berasal dari injil Matius dalam bahasa Aram, sebagaimana juga masih terdapat dalam Mrk. Bagaimanapun juga kerangka itu tampil jelas dalam Mat Yunani. Kita sudah melihat bagaimana Mat Yunani itu dengan leluasa dan bebas menggunakan sumber-sumbernya untuk menyusun keseluruhan sistimatik dan yang daya pendidiknya mengesankan. Mat Yunani dengan lebih lengkap menyajikan pengajaran Yesus dengan menekankan “Kerajaan Sorga” sebagai pokok utama, 4:17+. Injil Mat itu boleh dikatakan sebuah “dramatujuh bab mengenai kedatangan Kerajaan Sorga:

1)        persiapannya dalam Mesias yang masih kanak-kanak. 1 – 2;

2) pemakluman rencara Kerajaan Sorga kepada rakyat dan murid dalam “khotbah di Bukit”, 3 – 7;

3) pewartaan Kerajaan itu oleh para utusan, yang sama seperti Yesus mengerjakan mujizat-mujizat sebagai “tanda-tanda” yang meneguhkan perkataan mereka; sebuah wejangan khusus memberi­kan kepada para utusan itu petunjuk-petunjuk sehubungan dengan perutusan mereka, yaitu “Wejangan Perutusan”, 8 – 10:

4) Kerajaan Sorga tidak dapat tidak menghadapi hambatan dari pihak manusia, sesuai dengan tata laksana dalam kerendahan dan persembunyian yang dikehendaki Allah, sebagaimana diutarakan dalam “Wejangan Perumpamaan-perumpamaan” 11:1 – 13:52;

5) permulaan Kerajaan Sorga dalam sekelompok murid yang dikepalai oleh Petrus dan yang merupakan pangkal Gereja yang tata-tertibnya. dibentangkan dalam “Wejangan perihal Jemaat”, 13:53 – 18:35;

6) kemelut yang menyiapkan kedatangan Kerajaan Sorga yang definitip; kemelut itu ditimbulkan oleh perlawanan yang semakin sengit dari pihak para pemimpin Yahudi dan dinubuatkan dalam “Wejangan tentang Akhir Zaman”, 19 – 25;

7) Kedatangan Kerajaan Sorga melalui sengsara dan kemenangan ialah Sengsara dan Kebangkitan Yesus, 26 – 28.

 

Kerajaan Allah (= Sorga) yang harus menegakkan Pemerintahan Allah yang berdaulat di tengah-tengah manusia yang akhirnya mengakui Allah sebagai Raja, mengabdi dan mencintaiNya itu, sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Maka Matius yang menulis di tengah-tengah orang Yahudi dan buat orang-orang Yahudi sangat suka memperlihatkan bahwa dalam diri Yesus serta karyaNya Kitab Suci digenapi. Pada tiap-tiap titik balik injilnya, Matius mengutip Perjanjian Lama dengan maksud memperlihatkan bahwa Hukum Taurat dan para Nabi digenapi, artinya: tidak hanya dilaksanakan, tetapi juga dibawa ke kesempurnaan yang memahkotai dan melampauinya, Mat mengutip Perjanjian Lama sehubungan dengan Yesus sendiri untuk menyatakanNya sebagai keturunan Daud, 1:1-17, yang lahir dari seorang perawan, 1:23, di kota Betlehem, 2:6; hendak menggaris-bawahi tinggalNya di negeri Mesir dan menetapNya di kota Kapernaum, 4:14-16, serta masukNya ke Yerusalem sebagai Mesias, 21:5, 16. Mat juga mengutip Kitab Suci sehubungan dengan karya Yesus: mujizat-mujizatNya dengan menyembuhkan orang sakit, 11:4-5, pengajaran­Nya mengenai “penggenapan” hukum Taurat, 5:17, yang terdiri atas peningkatan hukum Taurat, 5:21-48; 19:3-9, 16-21. Tetapi Mat tidak kurang menonjolkan bahwa perendahan diri Yesus dan kegagalan karyaNya juga menggenapi Kitab Suci pula: pembunuhan atas kanak-kanak di Betlehem 2:17 dst, masa muda Yesus yang tersembunyi di Nazaret, 2:23, kelembutan hati Sang Hamba yang berbelaskasih, 12:17–21; bdk 8:17; 11:29; 12:7; murid-murid yang meninggalkanNya, 26:31, pengkhianatan demi sejumlah uang yang menertawakan, 27:9-10, penahanan Yesus, 26:54, penguburanNya untuk jangka waktu tiga hari, 12:40. Kesemuanya itu sesuai dengan rencara Allah sebagaimana terungkap dalam Kitab Suci, Demikianpun halnya dengan ketidak-percayaan orang Yahudi, 13:13-15, yang lekat pada adat-istiadat manusiawi, 15:7-9, dan yang hanya dapat diberi pengajaran rahasia berupa perumpamaan, 13:14 – 15:35; semuanya dinubuatkan dalam Kitab Suci. Tentu saja injil-injil sinoptik lainpun menggunakan Kitab Suci sebagai pembuktian, tetapi kiranya diambil dari Mat Aram, sedangkan Mat Yunani menonjolkan dan mengembangkan pembuktian alkitabiah itu begitu rupa sehingga menjadi ciri khas injilnya. Bersama dengan susunan sistematik justru ciri alkitabiah tersebut menjadikan karya Matius sebuah “Piagam” tata penyelamatan baru yang menggenapi rencara Allah melalui Kristus: Yesus adalah Anak Allah, hal mana lebih ditekankan oleh Mat dari pada oleh Mrk. 14:33; 16:16; 22:2; 27:40.43; pengajaranNya merupakan Hukum Baru yang menggenapi yang lama; Gereja yang dilandaskanNya atas Petrus, sedangkan Ia sendiri menjadi batu sendinya yang telah dibuang oleh para pembangun, 21:42, tidaklah lain dari jemaat Mesias yang melanjutkan jemaat Perjanjian Lama sementara memperluas jemaat lama sampai merangkum bangsa manusia seluruhnya, oleh karena Allah telah mengizinkan bahwa mereka yang pertama-tama dipanggil ditolak, 23:34-38; bdk 10:5-6.23; 15:24; dengan maksud membuka jalan penyelamatan bagi sekalian bangsa, 8:11-12; 21:33-46; 22:1-10; bdk 12:18.21; 28:19. Dapat dipahami mengapa injil Mat yang lebih lengkap, lebih baik tersusun dan ditulis dalam bahasa yang lebih baik dari bahasa Mrk, walaupun kurang sedap itu, oleh Gereja semula disambut dengan lebih baik dan dipergunakan dengan lebih leluasa dari pada kedua injil sinoptik lain.