Saudara sekalian, 

Setelah kita mempelajari latar belakang terbentuknya Kitab Suci, kita menyadari bahwa Kitab Suci adalah Wahyu Allah yang dibukakan kepada manusia, hagiograf (penulis Kitab Suci) yang hidup dalam jaman tertentu, yang mempunyai situasi, kondisi, budaya, kompleksitas persoalan tertentu. Wahyu itu turun dalam konteks seperti itu. 

Maka, merangkumkan semua itu, kita perlu menyadari dan sekaligus mengoreksi pandangan spontan yang seringkali tidak tepat, seperti:

- orang berfikir bahwa penulis suci adalah alat murni (seperti mesin) di tangan Tuhan, yang hanya menulis saja apa yang didiktekan Allah kepadanya untuk dituliskan. 

- orang mati-matian mempertahankan ungkapan Wahyu Allah dalam Kitab Suci secara hurufiah dan stricht. Akibatnya orang seringkali dibingungkan karena adanya terjemahan yang berbeda kata yang dipakai. 

- atau sebaliknya orang terlalu bebas menangkap isi Kitab Suci, karena terlalu yakin bahwa Wahyu Allah itu tidak terbatas pada orang tertentu saja. 

..... dan masih banyak pandangan spontan yang bisa mengarah ke pandangan berat sebelah dan bahkan menyimpang. Terhadap semua itu, yang perlu ditegaskan adalah: bahwa benarlah Wahyu Allah itu tidak diberikan hanya kepada satu orang dan dalam satu jaman saja, tetapi kepada beberapa orang. Tetapi juga harus digarisbawahi bahwa Wahyu itu tidak diberikan kepada sembarang orang. Kita sudah membahas bahwa ada banyak tulisan yang mirip Kitab Suci, atau malahan diakukan sebagai Kitab Suci oleh penulisnya, tetapi setelah diuji dan dikaji, akhirnya harus disimpulkan bahwa itu bukan tulisan Kitab Suci atau yang di-wahyu-kan oleh Allah. Tidak semua tulisan rohani atau tulisan santun bisa begitu saja digolongkan tulisan wahyu Allah. 

Selanjutnya, seperti halnya Allah mewahyukan diriNya dalam konteks jaman tertentu, maka untuk memahami Wahyu Allah itu untuk kita, kita juga harus menyadari konteks jaman kita saat ini. Maka, yang harus dipegang adalah bukan bagaimana bunyi kata dalam Kitab Suci, tetapi apa yang mau diwahyukan Allah dalam kondisi seperti itu?



Oleh karena itu, untuk bisa menyerap Sabda Tuhan atau Wahyu Allah dengan baik, ada beberapa pertimbangan sederhana yang barangkali bisa membantu proses perkembangan kematangan rohani kita. 

a. Kitab Suci sebaiknya dibaca dari Perjanjian Baru – lalu sesudah Perjanjian Baru dipahami dengan baik, kita membaca Perjanjian Lama. Mengapa? Perjanjian Lama adalah persiapan untuk Perjanjian Baru. Maka untuk mengerti apa makna yang tertuang dalam persiapan, orang harus mengerti dengan baik tentang peristiwa yang disiapkan itu. Lambang-lambang, warna-warni, kata-kata, dll mempunyai maknanya secara tepat kalau dikaitkan dengan peristiwanya sendiri. 

b. Untuk pemula, membaca Perjanjian Baru dianjurkan mulai dari Injil Lukas. Lalu sesudahnya Mateus, Markus dan terakhir Yohanes. Mengapa? Kita sudah melihat, Lukas adalah penulis yang berbakat dan sekaligus terpelajar. Tulisannya rapi, enak diikuti, dan sekaligus teratur. Ia menulis bukan kepada orang Yahudi saja, tetapi kepada bangsa-bangsa di luar Yahudi juga. Artinya, bukan kepada mereka yang sudah tahu Perjanjian Lama, tetapi juga kepada mereka yang baru sama sekali (bdk. Katekumen). Yohanes adalah tulisan yang paling sulit, karena ia meramu tulisannya dengan refleksi kristianinya, maka bahasanya panjang dan berputar-putar, penuh perlambangan, dinamis, tetapi sekaligus bermakna dalam. Bahasa Yohanes kaya akan makna rohani. Maka untuk menangkap kekayaan itu dengan baik dibutuhkan pengetahuan dasar dan sekaligus keterampilan rohani juga. 



NB. Surat-surat Paulus dan Surat Pastoral, bisa diletakkan berdampingan dengan keempat penginjil, khususnya Lukas dan Markus. Hanya yang harus disadari adalah konteks atau situasi yang melatarbelakangi tulisan-tulisan Paulus atau yang lain. Maka, surat itu akan amat kaya makna kalau dibaca dengan membayangkan seolah kita sendiri sedang menghadapi hal yang mereka hadapi atau bayangkan pada saat menulis surat-surat itu. 



Namun, biasanya orang ingin suatu kisah yang mengalir dan teratur, entah dari sisi kisah, kronologis, dll. Maka, dahulu pernah muncul tulisan yang disebut ‘Deatessaron’, yaitu rangkuman kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dikisahkan secara mengalir seperti suatu sejarah keselamatan. Dalam tulisan ini tidak ada pengarang dan buku, yang ada adalah Perjanjian Lama lalu Perjanjian Baru; mulai dengan Penciptaan dunia (Kejadian) dan berakhir kisah akhir jaman (Wahyu). Tulisan ini dahulu dimaksudkan untuk umat biasa, karena waktu itu membaca Kitab Suci langsung adalah tidak mudah, di samping jumlah Kitab Suci tercetak tidak banyak, juga syarat pengetahuan dan kemampuan baca pun amat rendah atau kurang. Maka, disajikan tulisan sederhana tadi. Tulisan ini dimaksudkan untuk membantu umat dalam hal memahami isi Kitab Suci atau sejarah keselamatan yang memuncak dalam diri Yesus Kristus. Akhir-akhir ini saudara-saudara kristen non katolik saya lihat mencetak tulisan semacam ini dalam Kisah Kudus dalam edisi kecil (bunga rampai). Tulisan itu kiranya baik untuk anak-anak sampai dengan tingkat SLTP. Saya mengatakan baik, karena anak-anak itu masih terlalu berat untuk diajak mengerti Kitab Suci sebagaimana saya ungkapkan di depan. 





salam dan doa,



Yohanes Samiran SCJ


*** Semoga Hati Yesus selalu merajai hati kita ***