|
KITAB-KITAB YOSUA, HAKIM-HAKIM, RUT, SAMUEL DAN RAJA-RAJA
Dalam Alkitab Ibrani
kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja
disebut “Nabi-nabi terdahulu” untuk membedakan kitab-kitab itu dengan
“Nabi-nabi kemudian”, ialah Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan kedua
belas nabi kecil. Sebutan “Nabi-nabi terdahulu” itu berdasarkan suatu
tradisi yang berkata, bahwa kitab-kitab itu digubah oleh beberapa nabi. Menurut
tradisi itu Yosualah yang menggubah kitabnya, sedangkan kitab Hakim-hakim dan
Samuel dikarang oleh nabi Samuel; dan kitab Raja-raja oleh nabi Yeremia. Sebutan
“Nabi-nabi” tsb dapat dibenarkan juga mengingat sifat keagamaan yang ada
pada kitab-kitab itu. Walaupun kitab-kitab itu lazimnya kita katakan
“kitab-kitab sejarah”, namun pokok utamanya ialah hubungan Israel dengan
Allahnya, Yahwe, yakni kesetiaan dan (terutama) ketidak-setiaan Israel kepada
firman Allah yang disuarakan oleh para nabiNya. Nabi-nabi memang sering tampil
dalam kisah yang tercantum dalam kitab-kitab itu. Muncullah nabi Samuel, Gat,
Natan, Elia, Elisa, Yesaya dan Yeremia di samping sejumlah nabi lain
yang kurang penting peranannya. Adapun kitab Raja-raja menggambarkan latar
belakang bagi para nabi pengarang yang berkarya sebelum masa pembuangan.
Sebagaimana keempat kitab tsb berhubungan erat dengan kitab
para nabi, demikian pun hubungannya dengan kitab-kitab yang mendahuluinya dalam
daftar kitab-kitab suci, yaitu kelima kitab Musa. Melihat isinya kitab-kitab itu
melanjutkan Pentateukh. Pada akhir kitab Ulangan Yosua diangkat sebagai
pengganti Musa dan kisah kitab Yosua mulai tidak lama sesudah wafatnya Musa.
Dahulu pernah disangka, bahwa ditinjau dan segi sastrapun kelima kitab Musa dan
kitab-kitab berikutnya merupakan suatu kesatuan. Maka dalam kitab-kitab itu
dicari-carilah lanjutan dan “dokumen dokumen” atau “sumber-sumber” yang
ditemukan dalam Pentateukh. Ada sementara ahli yang menemukan sumber-sumber yang
sama dalam kitab Yosua lalu berkata tentang “Heksateukh” (enam
kitab: Pentateukh + Yosua). Kemudian lanjutan sumber-sumber itu dicari
juga dalam kitab Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja. Tetapi usaha untuk menemukan
sumber-sumber Pentateukh dalam kitab-kitab tsb tidak membawa hasil yang
meyakinkan. Sedikit lain halnya dengan kitab Yosua. Dalam kitab ini memang dapat
ditemukan beberapa bagian yang mempunyai ciri-ciri yang juga lebih atau kurang
tampak dalam tradisi Yahwista dan Elohista yang menjadi sumber bagi Pentateukh.
Namun demikian unsur-unsur dalam kitab Yosua yang mempunyai ciri-ciri itu tidak
boleh dikatakan lanjutan tradisi-tradisi tsb. Sebaliknya, kitab Yosua jauh lebih
terpengaruh oleh tradisi (serta ajarannya) yang menghasilkan kitab Ulangan (selanjutnya
disebut: tradisi Ulangan). Maka pendukung-pendukung Heksateukh terpaksa
menerima, bahwa kitab Yosua mengalami saduran dan penggubahan yang dikerjakan
oleh seseorang (atau beberapa orang) yang dijiwai oleh tradisi Ulangan. Pengaruh
tradisi Ulangan itupun terdapat dalam kitab-kitab yang berikut (Hakim-hakim,
Samuel, Raja-raja), walaupun pengaruh itu tidak sama besarnya dalam semua kitab
itu. Pengaruh tradisi Ulangan sangat terasa dalam kitab Hakim-hakim, sedangkan
terbatas sekali dalam kitab Samuel, padahal kembali berperan besar dalam kitab
Raja-raja. Atas dasar pengaruh tradisi Ulangan yang terasa dalam semua kitab itu
sementara ahli mengemukakan hipotesa, bahwa kitab Ulangan aslinya merupakan awal
sebuah kitab sejarah keagamaan besar yang merangkum kitab Yosua, Hakim-hakim,
Samuel dan Raja-raja.
Adapun isi karya sejarah yang besar itu adalah sbb: kitab
Ulangan melandaskan dalam sejarah ajaran, bahwa Israel adalah bangsa yang
terpilih oleh Yahwe dan iapun menetapkan undang-undang bagi teokrasi yang
dihasilkan oleh tindakan Allah yang memilih umatNya. Kitab Yosua mengisahkan
bagaimana umat terpilih itu menduduki Tanah yang dijanjikan kepadanya. Kitab
Hakim-hakim menceriterakan bahwa umat terpilih dalam tanahnya itu berulang kali
murtad dari Yahwe, lalu kembali kepadaNya. Kitab Samuel terlebih dahulu
menyinggung krisis hebat yang mengakibatkan terbentuknya kerajaan, lalu
menguraikan bagaimana teokrasi sebagaimana dicita-citakan terwujud di zaman
pemerintahan Daud. Kitab Raja-raja lain menggambarkan kemerosotan yang berawal
dari pemerintahan Salomo dan melalui serangkaian ketidak-setiaan, yang tidak
dapat diimbangi beberapa raja yang saleh, membawa umar terpilih sampai menjadi
terkutuk oleh A1lahnya. Waktu segala kererangan mengenai pribadi dan karya Musa
mau dikumpulkan, kitab Ulangan dipisahkan dan karya besar itu, lalu dipersatukan
dengan kitab-kitab yang sekarang termaktub dalam Pentateukh (lih Pengantar
Pentateukh).
Hipotesa tsb mengenai adanya Karya sejarah yang digubah oleh
tradisi Ulangan boleh disetujui. Tetapi hipotesa itu perlu dilengkapi atau
dikoreksi sedikit dengan dua uraian tambahan. Yang pertama adalah sbb: Karya
tradisi Ulangan tsb dikerjakan berdasarkan tradisi-tradisi lisan ataupun
dokumen-dokumen tertulis yang berbeda-beda isi dan sifatnya. Tradisi-tradisi tsb
pada umumnya sudah dikumpulkan dan dijadikan kesatuan-kesatuan literer
sendiri-sendiri sebelum diolah oleh tradisi Ulangan. Bahan itu oleh tradisi
Ulangan disadur dengan cara yang tidak merata. Dengan jalan demikian dapat
diterangkan. mengapa kitab-kitab atau bagian-bagian besar kitab-kitab itu
mempertahankan corak asli yang berbeda dengan ciri-ciri khas tradisi Ulangan.
Tambahan yang kedua ialah: penggubahan oleh tradisi Ulangan tidak hanya satu
kali saja. Dalam masing-masing kitab dapat ditemukan petunjuk-petunjuk, bahwa
karya tradisi Ulangan itu berulang-ulang diterbitkan. Berdasarkan kitab
Raja-raja, tempat petunjuk petunjuk tsb paling jelas, harus dikatakan bahwa
sekurang-kurangnya ada dua terbitan. Terbitan pertama dikerjakan tidak
lama sesudah raja Yosia mengadakan pembaharuannya. Terbitan kedua dikerjakan di
masa pembuangan Israel di Babel (atau sesudahnya). Dalam kata pengantar bagi
masing-masing kitab akan diberikan keterangan-keterangan lebih lanjut mengenai
apa yang di sini dikatakan secara umum.
Dalam bentuknya yang terakhir semua kitab ini merupakan karya
sebuah mazbah orang-orang mursyid yang meresapkan ke dalam hati gagasan-gagasan
dan cita-cita yang menjiwai kitab Ulangan. Mereka merenungkan sejarah bangsanya
yang lampau, lalu menarik daripadanya pelajaran keagamaan. Tetapi dalam karya
mereka tersimpan bagi kita berbagai-bagai tradisi, baik lisan maupun tertulis,
yang sebagiannya dapat dikembalikan ke zaman kepahlawanan waktu Israel merebut
Tanah yang dijanjikan dan sebagiannya mengisahkan peristiwa-peristiwa cemerlang
dan sejarah umat Allah selanjutnya. Sejarah yang diperkenalkan tentu saja
“sejarah suci”. Tetapi ini tidak mengurangi nilai karya itu bagi sejarahwan,
sedangkan bagi orang beriman justru sifat itulah yang menjadi nilainya yang
tertinggi. Orang beriman tidak hanya menemukan dalam karya itu, bahwa Allah
turun tangan dalam kejadian-kejadian di dunia ini, tetapi kasih-sayang Allah
yang banyak tuntutannya terhadap umat pilihanNya oleh orang beriman dapat
diartikan sebagai persiapan bertahap-tahap menuju ke Israel baru, yakni
persekutuan kaum beriman.
Kitab Yosua terbagi menjadi tiga bagian:
a) Tanah yang dijanjikan direbut Israel, 1-12;
b) wilayah tanah yang direbut dibagi-bagikan kepada kedua belas suku, 13-21,
c) Yosua menyelesaikan tugasnya dan menyampaikan wejangan-wejangan perpisahan
kepada perhimpunan semua suku di Sikhem, 22-24.
Sudahlah pasti, bahwa kitab Yosua tidak dikarang oleh Yosua
sendiri, sebagaimana dikatakan oleh tradisi Yahudi. Pasti juga, bahwa penyusun
kitab ini mempergunakan berbagai-bagai sumber. Dalam bagian pertama kitab, 1-12,
ditemukan sejumlah tradisi, 2-9, yang kadang-kadang sejalan dan yang berpautan
dengan tempat suci suku Benyamin di Gilgal; selanjutnya, 10-11, terdapat dua
ceritera mengenai peperangan, yang satu tentaug pentempuran di Gibeon dan yang
lain mengenai pertempuran di Merom; ceritera-ceritera ini mengenai penaklukan
bagian selatan dan bagian utara negeri Kanaan. Kisah mengenai orang-orang Gibeon
yang terdapat dalam bab 9 dengan lanjutannya dalam 10:1-6 berperan sebagai tali
penghubung antara kedua kelompok tradisi-tradisi (2-8;10-11) tsb yang agaknya
sudah dipersatukan sejak awal zaman para raja. Kenyataan, bahwa ceritera-
ceritera bab 2-9 berasal dari Gilgal, tempat suci suku Benyamin, tidaklah
berarti, bahwa apa yang dikatakan tentang Yosua, seorang Efraim, baru kemudian
disisipkan ke dalam tradisi-tradisi itu. Sebab sebagian suku Efraim, dan
sebagian suku Benyamin bensama-sama memasuki negeri Kanaan sebelum mendapat
wilayahnya masing-masing. Tidak dapat disangkal, bahwa ceritera-ceritera dalam
bab 2-9 mempunyai ciri etiologis, artinya: ceritera-ceritera itu berusaha
menjelaskan beberapa gejala dan keadaan yang masih dapat disaksikan orang.
Tetapi unsur etiologis itu hanya menyangkut hal-ihwal atau akibat-akihat
peristiwa-peristiwa yang sendiri tidak perlu diragukan kebenaran historisnya,
kecuali barangkali ceritera mengenai direbutnya kota Ai.
Bagian kedua kitab Yosua, 13-21, berupa uraian geografis dan
sifatnya berbeda sekali dengan sifat bagian pertama. Bab 13 berkata tentaug
tempat kediaman suku-suku Ruben, Gad dan separuh suku Menasye yang sudah menetap
di daerah di Seberang Yordan di zaman Musa, bdk Bil 32; Ul 3:12-17. Bab 14-19
berkata tentang tempat kediaman suku-suku di sebelah barat sungai Yordan. Dalam
bab-bab ini tergabung dua macam dokumen. Dokumen pertama ialah sebuah laporan
mengenai batas-batas masing-masing suku. Kadang-kadang laporan itu sangat
terperinci dan kadang kadang agak kabur. Dokumen ini agaknya disusun di zaman
sebelum masa para raja. Pada dokumen itu ditambahkan dokumen-dokumen lain yaitu
daftar-daftar kota-kota. Paling terperinci adalah daftar koto-kota Yehuda yang
tencantum dalam bab 15. Bila pada daftar itu ditambahkan daftar suku Benyamin
yang terdapat dalam 18:25-28, maka pembagian kota-kota itu menjadi dua belas
kelompok atau wilayah. Boleh jadi daftar-daftar kota-kota itu mencerminkan
pembagian administratip kerajaan Yehuda, barangkali di zaman pemerintahan raja
Yosafat. Bab 20 yang berupa tambahan menyebut kota-kota perlindungan. Daftar ini
tidak lebih tua usianya dari zaman pemerintahan raja Salomo. Adapun bab 21 yaimg
berkata tentang kota-kota kaum Lewi, di tambah sesudah masa pembuangan. Tetapi
di dalamnya terdapat unsur-unsur yang berasal dari zaman para raja, jadi dri
zaman sebelum pembuangan.
Bab 22 dalam bagian ketiga kitab Yosua, 22-24, mengenai
pulangnya suku-suku yang bertempat tinggal di seberang sungai Yordan dan tentang
mezbah yang mereka dirikan di tepi sungai itu. Dalam ceritera ini terdapat
petunjuk, bahwa diolah oleh tradisi Ulangan dan tradisi para Imam. Ceritera itu
agaknya berasal dari sebuah tradisi tersendiri yang usia maupun maknanya tidak
jelas. Dalam bab 24 terpelihara kenangan yang kuno dan asli mengenai suatu
himpunan suku-suku Israel di Sikhem untuk mengadakan sebuah perjanjian suci.
Para penyusun kitab Yosua yang berpikir sesuai dengan tradisi
Ulangan tidak hanya di sana-sini mengolah bahan yang diambil dari tradisi yang
tersedia tetapi juga menambah beberapa bagian. Tambahan-tambahan semacam itu
ialah: bab I (bagian besar); 8:30-35; 10:16-43; 11:10-20; 12; 22:1-8; 23, dan
juga bab 24 yang diolah kembali oleh para penyusun. Kenyataan bahwa bab 24 yang
disadur sesuai dengan semangat tradisi Ulangan dipertahankan di samping bab 23
yang terpengaruh oleh bab 24 tetapi berasal dari tangan lain, menunjukkan bahwa
kitab Yosua mengalami dua terbitan berturut-turut.
Kitab Yosua menggambarkan penaklukan negeri Kanaan
seoleh-olah merupakan hasil suatu aksi bersama semua suku Israel yang bergerak
di bawah pimpinan Yosua. Tetapi ceritera yang termaktub dalam kitab Hakim-hakim,
1, memberi gambaran yang lain sekali. Menurut gamnbaran ini, masing-masing suku
berjuang untuk merebut wilayahnya sendiri dan usahanya kerap kali gagal juga.
Ceritera kitab Hakim-hakim itu merupakan suatu tradisi yang berasal dari suku
Yehuda. Beberapa unsur dari tradisi ini juga menyusup ke dalam bagian geografis
kitab Yosua, 13:1-6; 14:6-15; 15:13 17:12-18. Gambaran kitab Hakim-hakim
mengenai penaklukan negeri Kanaan bagian demi bagian dan tidak menyeluruh lebih
mendekati kenyataan historis sebagaimana dapat didugai. Pendudukan bagian,
selatan Palestina terutama dilakukan oleh beberapa kelompok orang Israel yang
berpangkal di Kadesy dan daerah Negeb dan yang tahap demi tahap menggabungkan,
diri dengan suku Yehuda, yakni orang-orang Kaleb, orang-orang Kenas, dll, serta
suku Simeon. Bagian tengah negeri Palestina diduduki oleh beberapa kelompok yang
menyeberangi sungai Yordan di bawah pimpinan Yosua, yaitu bagian-bagian dari
suku Efraim-Manasye dan Benyamin. Pendudukan bagian utara negeri mempunyai
sejarahnya sendiri. Sejak dahulu kala, entahlah kapan, suka suku Zebulon,
Isakhar, Asyer dan Naftali menetap di situ dan suku-suku itu tidak pernah turut
pindah ke Mesir. Suku-suku tsb di Sikhem memeluk kepercayaan kepada Yahwe yang
telah dibawa masuk oleh kelompok-kelompok yang dipimpin Yosua. Suku-suku itu
merebut wilayahnya yang tetap dengan memerangi orang-orang Kanaan yang telah
memperbudak mereka atau mengancamnya. Di masing-masing wilayah pendudukan
dilaksanakan baik dengan jalan perjuangan maupun melalui infiltrasi secara damai
ataupun melelui persekutuan dengan penduduk negeri yang asli. Peranan Yosua
dalam menduduki bagian tengah negeri mulai dengan penyeberangan sungai Yordan
sampai dengan persekutuan di Sikhem perlu diterima sebagai kenyataan historis.
Mengingat waktunya keluaran suku-suku Israel dan Mesir (lih.
Pengantar Pentateukh) dapatlah disimpulkan urutan peristiwa-peristiwa dalam
waktu sbb: Di sekitar thn 1250 seb. Mas. sejumlah kelompok orang-orang Israel
memasuki bagian selatan negeri Kanaan. Kelompok suku yang lain di bawah pimpinan
Yosua menduduki bagian tengah negeri dengan menyeberangi sungai Yordan sekitar
thn. 1225. Di sekitar thn. 1200 suku-suku di bagian utara negeri merambat.
Sejarah direbutnya negeri Kanaan oleh suku-suku Israel memang
serba majemuk dan berbehit-belit. Sebagaimana sejarah itu direkonstruksikan di
muka hanya berupa hipotesa. Kitab Yosua menyajikan suatu gambaran yang
mengidealisasikan dan menyederhanakan duduknya perkara. Menurut gambaran idiil
tsb. maka epos keluaran Israel dari Mesir masih berlangsung terus dalam
penaklukan negeri Kanaan: kini Allah masih juga secara ajaib turun tangan guna
membantu umatNya. Gambaran yang disajikan Yos menyederhanakan sejarah yang
sebenarnya oleh karena semua kejadian berpusatkan diri pribadi Yosua. Dialah
yang memimpin peperangan-peperangan keluarga Yusuf, 1-12, dan dialah yang
membagi-bagikan negeri yang direbutnya kepada suku-suku Israel, 13-21, meskipun
pembagian itu sesungguhnya tidak terlaksana sekali jadi atau oleh Yosua. Kitab
diakhiri dengan wejangan-wejangan perpisahan dan ceritera tentang kematian Yosua,
23; 24:29-31. Jadi dan permulaan sampai akhir Yosualah yang menguasai jalannya
perisrtwa-peristiwa. Dialah benar-benar tokoh utama dalam seluruh kitabnya.
Para bapa Gereja mengartikan diri pribadi Yosua sebagai
pralambang Yesus. Tidak hanya nama mereka sama, Yosua-Yesus, artinya: penyelamat.
Tetapi penyeberangan sungai Yordan dan masuknya ke dalam Tanah yang dijanjikan
juga diartikan sebagai pralambang baptisan dalam nama Yesus yang mengantarkan
umatNya menghadap Allah. Direbutnya negeri Kanaan dan pembagian wilayahnya
menjadi pralambang kemenangan-kemenangan dan perambatan Gereja Kristus.
Dalam rangka pandangan Perjanjian Lama sendiri, maka justru Tanah Kanaan itulah
yang menjadi pokok inti kitab Yosua. Bangsa Israel sudah menemukan Allahnya di
padang gurun. Kini bangsa itu juga menerima negerinya sendiri dan memang
diterimanya dari Allahnya. Tentu saja Yahwelah yang berjuang bagi bangsa Israel,
23; 3-10; 24:11-12, dan Dialah yang mewariskan kepada umatNya tanah yang telah
dijanjikan kepada para bapa leluhur, 23.5, 14.
Kitab Hakim-hakim mencakup tiga bagian yang tidak sama panjangnya:
a) Pendahuluan, 1:1 - 2:5,
b) Bagian inti kitab, 2:6 - 16:31,
c) Dua bagian tambahan berupa laporan mengenai suku Dan yang pindah tempat
kediaman dan mendirikan kuilnya di Dan, 17-18, dan laporan mengenai perang
melawan suku Benyamin sebagai hukuman atas kejahatan yang mereka lakukan di
Gibea, 19-21.
Pendahuluan yang sekarang terdapat dalam kitab Hakim-hakim,
1:1 - 2:1, aslinya tidak termasuk ke dalamnya. Dalam uraian mengenai kitab Yosua
sudah dikatakan, bahwa bagian kitab Hakim-hakim 1,11 menyajikan suatu gambaran
lain tentang penaklukan negeri Kanaan yang ditinjau dari segi suku Yehuda.
Tersisipnya gambaran itu ke dalam kitab Hakim-hakim menyebabkan, bahwa
keterangan mengenai kematian dan pemakaman Yosua yang diberikan dalam Yos
24:29-31 terulang dalam Hak 2:6-10.
Riwayat masing-masing hakim diberitakan dalam bagian inti
kitab, 2:6 - 16:31. Dewasa ini sudah lazim disebutkan enam “Hakim besar”,
yakni Otniel, Ehiud, Barak (dan Debora), Gideon, Yefta dan Simson. Riwayat
hakim-hakim ini Iebih kurang terperinci disajikan. Di samping itu disebutkan
enam “Hakim kecil”, yaitu Samgar, 3:31, Tola dan Yair, 10:1-15, Ebzan, Elon
dan Abdon, 12:8-15. Tokoh-tokoh ini hanya disinggung sepintas lalu saja. Tetapi
pembedaan antara Hakim besar dan Hakim kecil itu tidak terdapat dalam kitab itu
sendiri. Tentang perbedaan antara kedua kelompok hakim-hakim itu sangat mendalam.
Gelar umum “hakim” yang diberikan kepada mereka semua dikarenakan susunan
kitab Hakim-hakim melulu, yang mempersatukan berbagai-bagai unsur yang aslinya
sama sekali berbeda satu sama lain. Hakim-hakim besar ialah pahlawan-pahlawan
yang bentindak sebagai pembebas. Asal, watak dan kegiatan-kegiatan mereka tentu
saja sangat berbeda-beda. Namun dalam satu hal mereka saling menyerupai, oleh
karena mereka semua menerima karunia khusus, sebuah karisma: secara istimewa
mereka dipilih oleh Allah dan diberi tugas penyelamatan. Mula-mula riwayat
mereka diceriterakan secara lisan dan dengan berbagai-bagai cara, sementara juga
macam-macam unsur ditambahkan. Akhirnya riwayan-riwayat itu dikumpulkan dalam
sebuah kitab yang boleh diberi judul “Kitab para pembebas Israel”. Kitab itu
disusun dalam kerajaan Utara Israel, pada bagian awal zaman para raja. Kitab itu
memuat riwayat Ehud, Barak serta Debora (ceritera ini barangkali sudah
terpengaruh oleh ceritera yang terdapat dalam Yos 11 mengenai Yabin dari Hazor),
riwayat Gideon-Yerubaal yang dihubungkan dengan ceritera mengenai pemerintahan
raja Abimelekh di Sikhem, dan riwayat Yefta yang kepadanya ditambahkan kisah
mengenai anak perempuannya. Ke dalam kumpulan riwayat-riwayat itu dimasukkan
juga dua potongan puisi, yakni Nyanyian Debora, 5, yang mengulangi ceritera yang
tercantum dalam bab 4, dan sebuah pembelaan diri yang diucapkan Yotam, 9:7-15,
yang bernada melawan jabatan raja yang direbut Abimelekh. Dalam kitab yang
disusun itu para pahlawan dan beberapa suku diangkat menjadi pahiawan nasional
yang melakukan peperangan-peperangan Yahwe guna selunuh Israel. Sebaliknya,
catatan-catatan mengenai hakim-hakim kecil, yaitu Tola, Yair, Ebzan, Elon dan
Abzon, berasal dari tradisi lain. Mereka tidak terlibat dalam suatu aksi
pembebasan dan penyelamatan. Hanya diberi beberapa keterangan mengenai asal,
keluarga dan tempat makam mereka; tentang mereka dikatakan bahwa “menghakimi
Israel” selama jangka waktu tententu yang dapat berbeda-beda. Menurut arti
kata “syafat” (menghakimi) dalam bahasa-bahasa Semit Barat yang
berdekatan dengan bahasa Ibrani, yaitu dalam aahasa Mari (abad 18 seb. Mas.),
dalam bahasa Ugarit (abad 13 seb. Mas.) dan dalam bahasa Fenisia serta Punika di
zaman Yunani-Romawi (“suffet” dan kota Kartago), maka para
“hakim” tidak hanya menegakkan hukum dan keadilan, tetapi juga memerintah.
Kewibawaan mereka tidak meliputi lebih dari kota atau wilayahnya sendiri.
“Hakim” merupakan sebuah lembaga kenegaraan di tengah antara kepala suku dan
raja. Para penyusun kitab Hakim-hakim yang benhaluan tradisi Ulangan tentu saja
mempunyai keterangan-keterangan tepat mengenai “hakim-hakim” (kecil) itu.
Tetapi mereka memperluas kewibawaan mereka sampai merangkum selunuh Israel, lalu
mengurutkan mereka secara kronologis. Gelar mereka, yakni “hakim”, dialihkan
kepada para pahlawan yang riwayatnya ditemukan dalam “Kitab para pembebas
Israel” yang disebut di muka, sehingga mereka pun menjadi “hakim-hakim
Israel”. Adapun Yefta berpenan sebagai tali penghubung antara dua macam hakim
itu: ia adalah baik pembebas maupun hakim. Tentang Yefta para penyusun Hak
mempunyai dan memberi keterangan yang sama, 11:1-2; 12:7, seperti tentang
“hakim-hakim kecil”, tetapi keterangan-keterangan itu merangkaian riwayat
Yefta sebagai pembebas. Dalam kitab Hakim-hakim, 13-16, terjumpa pula seorang
tokoh yang mula-mula tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan hakim-hakim
besar atau hakim-hakim kecil. Tokoh itu ialah Simson, seorang pahlawan suku Dan
yang berjuang seorang diri dan yang bukan hakim dan bukan pembebas.
Tindakan-tindakan hebat tokoh itu dalam melawan orang-orang Filistin aslinya
diceritakan di kalangan suku Yehuda. Tetapi dalam kitab Hakim-hakim Simson pun
dijadikan “hakim Israel”. Pada daftar hakim-hakim itu masih ditambahkan
Otniel, 3:7-11, yang kiranya harus disangkutkan dengan zaman perebutan negeri
Kanaan, bdk Yos 14:16-19; Hak 1:12-15, dan pula Samgan, 3:31, yang bahkan bukan
orang Israel, bdk Hak 5:6. Dengan demikian diperoleh jumlah dua belas hakim
Israel. Memang angka dua belas melambangkan Israel (dua belas suku). Justru para
penyusun kitab Hakim-hakim yang berhaluan tradisi Ulangan memberikan kepada
kitab itu rangka kronologisnya. Dengan mempertahankan keterangan-keterangan asli
mengenai “hakim-hakim kecil” para penyusun membubuhi kisahnya dengan
beberapa angka lambang yang lazim, yakni angka 40 yang genap satu angkatan, atau
angka 80 (2 x 40) dan 20 (= 40-20). Dengan demikian diperoleh suatu angka yang
bersama dengan keterangan-keterangan lain yang tercantum dalam Kitab Suci
menghasilkan 480 thn, yang menurut sejarah Ulangan berlangsung antara keluarnya
bangsa Israel dan negeri Mesir sampai dibangunnya Bait Allah oleh raja Salomo, 1
Rj 6:1. Dalam rangka itu riwayat-riwayat para hakim mengisi masa antara kematian
Yosua dan permulaan kegiatan Saul dengan tidak membiarkan kekosongan.
Para penyusun kitab Hakim-hakim yang berhaluan tradisi
Ulangan terutama memberi kitab itu makna keagamaannya. Makna itu terungkap baik
dalam kata pendahuluan umum, 2:6 - 3:6, maupun dalam kata pengantar khusus bagi
riwayat Yefta, 10:6-16, dan lagi dalam beberapa keterangan tambahan yang oleh
para penyusun disebarkan dalam riwayat Otniel (sebagaimana disusun oleh tradisi
Ulangan) dan keterangan yang merangkakan riwayat-riwayat lain. Tema pokok yang
terungkap dalam keterangan-keterangan itu ialah: Orang-orang Israel menjadi
tidak setia kepada Allahnya; Yahwe lalu menyerahkan mereka kepada
penindas-penindas. Setelah orang-orang Israel berbalik dan berseru kepada Yahwe,
Ia mengutus seorang penyelamat, yaitu seorang hakim, yang membebaskan mereka.
Hanya orang-orang Israel murtad kembali, lalu terulanglah sejarah yang sama.
Kitab Hakim-hakim yang terbentuk dalam tradisi Ulangan itu
sekurang-kurungnya mengalami dua terbitan. Bukti-bukti yang paling jelas ialah:
Dalam kata pendahuluan, 2:1 - 3:6, ada dua bagian yang mengulang satu sama lain,
2:11-19 dan 2:6-10 + 2:20 - 3:6; dalam riwayat Simson ada dua kata penutup,
15:10 dan 16:30, yang menunjuk, bahwa bab 16 berupa tambahan.
Kitab Hakim-hakim seperti disusun oleh tradisi Ulangan itu
belum juga memuat bab 17-21. Dalam tambahan-tambahan itu tidak dikisahkan
riwayat seorang “hakim”, tetapi disajikan beberapa peristiwa yang terjadi
sebelum kerajaan terbentuk. Dan justru karena itulah ceritera-ceritera itu
ditambahkan kepada kitab Hakim-hakim di zaman sesudah masa pembuangan.
Ceritera-ceritera tsb tentu saja sangat kuno dan sudah lama beredar, entah dalam
bentuk sastra entah dalam bentuk prasastra, sebelum dimasukkan ke dalam Hak. Bab
17-18 berasal dari tradisi suku Dan dan niengenai pindahnya suku itu dan
dibangunnya tempat suci suku Dan. Hanya kemudian tradisi itu disadur sehingga
mendapat nada pengecam. Bab 19-21 sesungguhnya menggabungkan dua tradisi
mengenai tempat suci di Mizpa dan Betel, lalu dikaitkan pada seluruh Israel.
Boleh jadi tradisi-tradisi itu berasal dari kalangan suku Benyamin, tetapi
kemudian di kalangan suku Yehuda tradisi-tradisi itu dirubah sedemikian rupa
sehingga melawan pemerintahan raja Saul di Gibea.
Kitab Hakim-hakim hampir saja merupakan satu-satunya sumber
pengetahuan kita mengenai zaman para hakim. Hanya berdasarkan kitab itu orang
tidak dapat menyusun sebuah sejarah yang sebenarnya. Urutan peristiswa-peristiwa
dibuat-buat saja, seperti sudah dikatakan di muka. Peristiwa-peristiwa yang
barangkali bertepatan waktunya disusun secara berurutan. Dan ini boleh dikatakan
oleh karena baik penindasan-penindasan yang dialami maupun pembebasan aslinya
hanya menyangkut wilayah (suku) tertentu saja. Kecuali itu zaman para hakim
tidak berlangsung lebih lama daripada satu setengah abad.
Peristiwa-peristiwa utama yang tercatat dan dalam kitab
Hakim-hakim diabadikan bagi kita, hanya dapat diterka-terka saja waktunya dalam
rangka zaman itu secara menyeluruh. Kemenangan di Taanakh yang diperoleh Debora
dan Barak, 4-5, boleh ditanggalkan pada pertengahan abad 12 seb. Mas., dan
peristiwa itu terjadi sebelum penyerbuan suku Midian (Gideon) dan ekspansi
orang-orang Filistin ke luar wilayahnya sendiri (Simson). Terutama menjadi nyata,
bahwa di zaman yang kacau itu, orang-orang Israel tidak hanya berperang dengan
orang-orang Kanaan, penduduk asli negeri itu, seperti terjadi di dataran Yizreel
tempat orang-orang Kanaan dikalahkan Debora dan Barak, tetapi juga harus
menghadapi bangsa-bangsa tetangga, yaitu Moab (Ehud), Amon ( Yefta), Midian
(Gideon) dan bangsa Filistin yang baru-baru saja tampil di panggung sejarah
Palestina (Simson). Dalam Situasi yang berbahaya itu masing-masing kelompok
orang Israel mempertahankan wilayahnya sendiri. Tetapi terjadi juga bahwa
beberapa kelompok tetangga membentuk suatu persekutuan, 7:23, atau sebaliknya,
bahwa salah satu suku yang kuat membangkang oleh karena, misalnya, tidak
diikut-sertakan dalam pembagian barang rampasan, 8:1-3; 72:1-6. Nyanyian Dehora,
5, mengecam suku-suku yang tidak menanggapi seruan minta tolong. Apa yang dalam
nyanyian itu paling menarik ialah tidak disebutkannya suku Yehuda dan Simeon.
Memang kedua suku itu bertempat tinggal di bagian selatan
negeri. Wilayah mereka terpisah dari suku-suka lain oleh kota-kota yang
penduduknya bukan orang Israel, yaitu Gezer, Gibeon dan Yerusalem. Isolasi
suku-suku itu menanamkan bihit perpecahan di Israel seperti yang terjadi di
kemudian hari (sesudah raja Salomo). Sebaliknya, kemenangan di Taanakh yang
memberi Israel dataran Yizreel mempersatukan suku Yusuf (Efraim dan Manasye)
dengan suku-suku di bagian utara negeri. Sementara itu persatuan fundamentil
antara suku-suku Israel yang terpisah satu sama lain itu terjamin oleh
kepercayaan bersama kepada Yahwe. Memang semua hakim dengan teguh menganut agama
Yahwe yang sama dan tempat suci di Silo, di mana tersimpan Tabut yang suci,
menjadi pusat pertemuan semua kelompok di Israel. Kecuali itu,
peperangan-peperangan tsb menempa semangat kebangsaan dan mempersiapkan saat
pemersatuan semua orang Israel di bawah pimpinan Samuel, dengan melawan musuh
bersama, menanggulangi bahayn yang mengancam seluruh bangsa.
Kitab Hakim-hakim mengajar orang-orang Israel di kemudian
hari, bahwa penindasan-penindasan oleh bangsa-bangsa lain merupakan hukuman atas
kedurhakaan Israel, sedangkan kemenangan merupakan akibat berbaliknya mereka
kepada Yahwe. Kitab Bin Sirakh memuji para hakim oleh karena setia, Sir
46:11-12. Dan surat kepada orang-orang Ibrani mengartikan keberhasilan para
hakim sebagai ganjaran bagi kepercayaan mereka. Memang para hakim termasuk
“banyak saksi” yang mendorong umat Kristen untuk menanggalkan semua beban
dosa dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi mereka, Ibr
11:32-34; 12:1.
Kitab Rut yang kecil oleh terjemahan Yunani (Septuaginta),
terjemahan Latin (Vulgata) dan terjemahan-terjemahan modern ditempatkan sesudah
kitab Hakim-hakim. Sebaliknya, dalam Kitab Suci Ibrani kitab Rut ditempatkan
dalam bagian ketiga Alkitab, yakni di tengah-tengah Hagiographa (Kethubim)
sebagai salah satu dari “Ke1ima Gulungan” (Megillot), yang dibacakan pada
hari-hari raya Yahudi. Kitab Rut dibacakan pada hari raya Pentakosta. Walaupun
pokok isinya menghubungkan kitab Rut dengan zaman para hakim, bdk 1:1, namun
kitab ini tidak dituliskan atau diolah oleh tradisi Ulangan yang menyusun dan
menyadur kitab Yosua, Hakim, Samuel dan Raja-raja.
Kitab Rut menyajikan kisah Rut. Dia itu seorang perempunn
Moab. Setelah suaminya, seorang Betlehem yang mengungsi ke negeri Moab,
meninggal, maka Rut bersama dengan ibu mertuanya yang bernama Naomi, kembali ke
negeri Yehuda. Di sana Rut dikawini oleh Boas, seorang sanak saudara suami Rut,
sesuai dengan hukum Levirat. Dari perkawinan itu lahirlah Obed, nenek raja Daud.
Tambahan 4:18-22 menyajikan silsilah Daud yang sejalan dengan silsilah yang
termaktub dalam 1 Taw 2:5-15.
Mengenai tanggat dituliskannya kitab Rut ada perbedaan
pendapat. Segala macam kemungkinan sudah dikemukakan, mulai dengan zaman raja
Daud dan Salomo sampai dengan zaman Nehemia. Ada berbagai pertimbangan untuk
menanggalkan kitab itu di zaman belakangan, sepenti tempai kitab itu dalam
Alkitab Ibrani, bahasanya, adat-istiadat yang disinggung dalam kitab itu, ajaran
yang terkandung di dalamnya, dIl. Tetapi pertimbangan-pertimbangan itu tidak
sampai memberi kepastian. Adalah mungkin, bahwa kitab kecil ini, dengan
dikecualikan ayat-ayat terakhir, dikarang di zaman para raja.
Kitab Rut adalah sebuah karangan yang mau membina. Adapun
ajaran yang terkandung di dalamnya adalah sbb. Maksud utamanya ialah
memperlihatkan, bahwa kepercayaan penuh harapan kepada Yahwe tentu saja mendapat
ganjarannya; belas-kasihan Allah merangkum juga seorang yang bukan orang Yahudi,
2:12. Justru kepercayaan kepada Penyelenggaraan Ilahi serta semangat
universalisnya menjadikan kitab itu tetap berharga dan tahan waktu. Lagi
kenyataan, bahwa Rut diperkenalkan sebagai nenek Daud memberi kitab Rut nilai
yang khas. Matius memang mencantumkan nama Rut dalam silsilah Yesus, Mat 1:5.
Kitab-kitab Samuel dalam Alkitab Ibrani hanya satu kitab saja.
Pembagian atas dua kitab berasal dari terjemahan Yunani, Septuaginta, yang juga
mempersatukan kitab-kitab Samuel dan kitab-kitab Raja-raja di bawah judul yang
sama. Yakni: Keempat kitab Kerajaan. Terjemahan Latin Vulgata,
menyebutnya: Keempat kitab Raja-raja. Kitab Samuel dalam Alkitab Ibrani
sama dengan kitab Kerajaan/Raja-raja yang pertama dan yang kedua. Adapun nama
“Samuel” berasal dari tradisi Yahudi yang menganggap Samuel sebagai penyusun
kitab itu.
Teks kitab Samuel termasuk ke dalam teks-teks Perjanjian Lama
yang paling rusak. Terjemahan Yunani, Septuaginta, kerap kali menyajikan suatu
teks yang cukup berlainan. Teks Septuaginta itu berlatar-belakang suatu teks
Ibrani (yang diterjemahkan Septuaginta), yang berbeda dengan yang terdapat dalam
terbitan Alkitab Ibrani sekarang (teks para Masoret). Kepingan-kepingan dari
teks Ibrani yang berbeda itu ditemukan kembali dalam naskah-naskah dari gua-gua
di Qumran. Tidak dapat diragukan, bahwa dahulu ada beberapa resensi teks Ibrani
kitab Samuel.
Dalam kitab Samuel dapat dibedakan lima bagian:
a) Kisah Samuel, 1 Sam 1-7;
b) Kisah Samuel dan Saul, 1 Sam S - 15;
c) Kisah Saul dan Daud, 1 Sam 16-2 Sam 1;
d) Kisah Daud, 2 Sam 2-20;
e) beberapa tambahan, 2 Sam 21-24.
Kitab Samuel menggabungkan dan menyejajarkan beberapa sumber
dan tradisi yang berbeda-beda mengenai permulaan zaman para raja. Misalnya: ada
sebuah ceritera tentang Tabut Perjanjian yang dirampas oleh orang-orang Filistin,
1 Sam 4-6; dalam ceritera ini nama Samuel tidak sampai disebut-sebut; ceritera
itu dilanjutkan dalam 2 Sam 6. Ceritera tentang Tabut Perjanjian itu disisipkan
antara kisah mengenai masa muda Samuel, 1 Sam 1-3, dan ceritera yang menampilkan
Samuel sebagai hakim terakhir yang mengantisipasikan pembebasan Israel dan
tekanan dari pihak orang-orang Filistin, 1 Sam 7. Samuel memainkan peranan utama
dalam kisah mengenai terbentuknya pemerintahan berupa kerajaan di Israel, 1 Sam
8-12. Sejak dahulu kala orang membedakan dalam kisah itu dua macam tradisi.
Tradisi yang satu terdapat dalam 9; 10.1-16; 11, dan tradisi
kedua ditemukan dalam 8; 10:17-24; 12. Tradisi pertama disebut “Versi
Monarkis”, karena mendukung terbentuknya kerajaan, tradisi kedua disebut
“Versi Antimonarki”, oleh karena melawan kerajaan. Tradisi kedua ini
dikatakan berasal dan zaman kemudian. Tetapi sebenarnya tradisi itu dua-duanva
kuno dan hanya mewakili pendapat-pendapat yang berlainan. Selebihnya tradisi
kedua tidak anti-monarki seperti kerap dikatakan. Sebab pada pokoknya tradisi
itu hanva tidak menyetujui, bahwa raja tidak menghiraukan hukum-hukum dan
hak-hak Allah. Dalam 13-14 diceriterakan mengenai peperangan yang diadakan Saul
melwan orang-orang Filistin. Di dalam kisah itu juga tercantum ceritera pertama
tentang Saul yang sebagai raja ditolak, 13:7b-15a. Ceritera kedua mengenai
penolakan itu terdapat dalam bab 15, berhubungan dengan perang melawan
orang-orang Amalek. Penolakan Saul sebagai raja itu mempersiapkan pengurapan
Daud menjadi raja oleh Samuel, sebagaimana diceriterakan dalam 16:1-13. Dalam 1
Sam 16:14 - 2 Sam 1 terkumpul beberapa tradisi sejalan mengenai tampilnya Daud
serta perselisihan perselisihannya dengan Saul. Tradisi-tradisi itu agaknya
lebih kurang sama usianya. Akhir kisah tentang tampilnya Daud itu disajikan
dalam 2 Sam 2-5: Daud menjadi raja di Hebron, mengadakan perang dengan
orang-orang Filistin dan merebut Yerusalem. Semuanya itu meletakkan dasar bagi
diurapinya Daud menjadi raja seluruh Israel, 2 Sam 5:12. 2 Sam 6 menyambung
ceritera mengenai Tabut Perjanjian. Nubuat Natan yang disajikan dalam 2 Sam 7
berasal dari tradisi kuno, tetapi jelaslah trudisi itu mengalami saduran. 2 Sam
8 berupa sebuah ringkasan yang berasal dari tangan penyusun kitab Samuel sendiri.
Mulai dengan 2 Sam 9 tercantum sebuah kisah panjang yang terputus dalam 2 Sam
20:26, lalu dilanjutkan dalam 1 Raj 1-2. Kisah yang panjang itu mengenai
keluarga Daud dan perebutan takhta kerajaan menjelang akhir hidup Daud. Kisah
itu ditulis oleh seseorang yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan
peristiwa-peristiwa itu. Penulisannya boleh ditanggalkan di pertengahan pertama
masa pemerintahan raja Salomo. 2 Sam 21-24, yang memutuskan kisah mengenai
keluarga Daud itu, merupakan sekumpulan ceritera tentang pemerintahan Daud.
Ceritera-ceritera itu berasal dari macam-macam sumber.
Tidak hanya ceritera panjang mengenai keluarga Daud, 2 Sam
9-20 + 1 Raj 1-2, tetapi juga bagian-bagian lain kitab Samuel boleh jadi sudah
terbentuk selama abad-abad pertama zaman para raja, khususnya sekumpulan
ceritera mengenai Samuel dan dua kisah tentang Saul dan Daud. Mungkin
kelompok-kelompok itu sudah dipersatukan sekitar thn 700 seb. Mas. Akan tetapi
kitab Samuel baru mendapat bentuknya yang terakhir waktu menjadi bagian dari
karya sejarah besar yang digubah sesuai dengan semangat tradisi Ulangan,
sebagaimana di muka diuraikan. Hanya perlu diperhatikan, bahwa pengaruh tradisi
Ulangan atas kitab Samuel jauh lebih kecil daripada pengaruhnya atas kitab
Hakim-hakim dan kitab Raja-raja. Pengaruh tradisi Ulangan itu khususnya terasa
dalam 1 Sam 2:22 - 36; 7 dan 12, dan barangkali juga dalam saduran yang dialami
nubuat Natan, 2 Sam 7. Tetapi kisah panjang dalam 2 Sam 9-20 hampir secara murni
dan utuh terpelihara.
Kitab Samuel meliputi masa yang bermula pada awal zaman
raja-raja Israel dan berlangsung sampai akhir pemerintahan raja Daud.
Orang-orang Filistin mulai menyerbu — pertempuran di Afek, 1 Sam 4, yang
terjadi di sekitar thn 1050 seb. Mas. — dan membahayakan eksistensi Israel.
Bahaya itu memaksakan kepada suku-suku Israel suatu pemenintahan yang berupa
kerajaan. Kira-kira pada thn. 1030 Saul tampil ke depan sebagai penerus para
hakim dahulu. Tetapi oleh karena diterima oleh semua suku, maka kekuasaan Saul
menjadi umum dan tetap. Demikian lahirlah kerajaan. Mulailah perang untuk
membebaskan Israel. Orang-orang Filistin berhasil dihalaukan dari wilayah
Israel, 1 Sam 14. Selanjutnya pertempunan-pertempuran hanya terjadi di
perbatasan wilayah Israel, 1 Sam 17 ( Lembah Tarbantin), 1 Sam 28 dan 31 (di
Gilboa). Pertempuran terakhir ini menjadi bencana bagi Israel. Saul gugur di
dalamnya di sekitar thn 1010. Kembali kesatuan bangsa terancam. Sebab suku
Yehuda mengurapi Daud menjadi raja, sedangkan suku-suku di bagian utara negeri
melawan Daud dan menganut putera Saul, Isyboset (Isybaal) yang terpaksa
melarikan diri ke daerah di seberang sungai Yordan. Setelah Isyboset mati
terbunuh, muncullah kembali kemungkinan, bahwa seluruh bangsa bersatu lagi. Maka
Daud diterima sebagai raja atas seluruh Israel, 2 Sam 1 - 5:3.
Selanjutnya kitab Samuel secara singkat menguraikan
keherhasilan politik pemerintahan Daud. Hasil itu memang cukup gemilang. Secara
definitip orang-orang Filis itu dihalaukan dari wilayah Israel; pusat-pusal
kecil penduduk asli yang masih tersisa dilenyapkan, sehingga Israel
sungguh-sungguh memiliki seluruh wilayahnya. Yang paling penting di bidang ini
ialah direbutnya kota Yerusalem dari orang-orang Yebus. Kota itu dijadikan ibu
kota negara dan agama bagi seluruh Israel. Daerah di seberang sungai Yondan
ditaklukkan seluruhnya dan Daud bahkan berhasil memaksakan pengawasannya kepada
orang-orang Aram di Siria Selatan. Namun demikian, ketika Daud sekitar thn 970
seb. Mas. mangkat, kesatuan nasional Israel belum juga sungguh-sungguh terwujud.
Daud memang menjadi raja atas Israel dan Yehuda, tetapi kedua bagian negaranya
itu kerap kali berlawanan satu sama lain. Suku-suku di bagian utara mendukung
pemberontakan Absalom; Seba, orang suku Benyamin, berusaha mengobarkan
pemberontakan dengan seruan: “Masing-masing ke kemahnya, hai orang Israel,”
1 Sam 20:1. Bibit perpecahan sudah tertanam.
Kitab Samuel menyampaikan suatu peaan keagamaan. Diberitakan
olehnya mana syarat-syarat dan mana kesulitan-kesulitan dalam mewujudkan
pemerintahan Allah di bumi. Keadaan ideal untuk perwujudan pemerintahan Allah
itu hanya tercapai di masa pemerintahan Daud saja. Memang masa Daud didahului
zamnan Saul yang jatuh, dan disusul kerusakan yang disebabkan ketidak-setiaan
para raja, pengganti Daud, baik di bagian utara maupun di bagian selatan negeri.
Dan sejarah ketidak-setiaan itu akan berakhir dengan hukuman Allah dan
kemusnahan bangsa Israel. Sejak nubuat nabi Natan pengharapan akan Mesias kelak
bertumpu pada janji-janji yang diberikan kepada wangsa Daud. Sampai tiga kali
Perjanjian Baru menyebutkan janji-janji itu, Kis 2:30; 2 Kor 6:18; Ibr 1:5.
Yesus adalah keturunan Daud. Oleh rakyat ía diberi gelar “Anak Daud” dan
gelar itu ialah suatu sebutan bagi Mesias. Para bapa Gereja melihat suatu
persamaan antara kehidupan Daud dan kehidupan Yesus: Kristus juga dipilih untuk
menyelamatkan segala manusia dan menjadi raja atas umat Allah yang rohani.
Tetapi Ia-pun dianiaya oleh bangsaNya sendiri.
Sebagaimana halnya dengan kitab-kitab Samuel, demikianpun
Kitab-kitab Raja-raja mula-mula merupakan satu kitab saja. Dalam terjemahan
Yunani, Septuaginta, disebut kitab 3/4 Kerajaan, dan dalam terjemahan Latin,
Vulgata, berjudul: Kitab 3/ 4 Raja-raja.
Tempat kitab itu dalam daftar kitab-kitab suci tepat sesudah
kitab Samuel. Bahkan 1 Raj 1-2 mengakhiri kisah panjang yang tercantum dalam 2
Sam 9-20. Menyusullah kisah panjang mengenai pemerintahan Salomo, 1 Raj 3-11,
yang menampilkan hikmatnya yang luar biasa, semarak bangunan-bangunannya,
teristimewanya Bait Allah di Yerusalem, dan lagi kekayaan Salomo yang
berlimpah-limpah. Sudah barang tentu zaman raja Salomo adalah zaman kejayaan.
Tetapi justru di zaman itupun hilanglah semangat berjuang yang merupakan ciri
khas pemerintahan Daud. Ciri khas masa pemerintahan Salomo ialah: mengatur,
memelihara dan memanfaatkan apa yang dimulai oleh Daud. Ketegangan dan
pertentangan antara kedua bagian kerajaan Daud di masa Salomo tetap ada, bahkan
pada tahun mangkatnya raja Salomo, thn 931 seb. Mas., terpecahlah negara
kesatuan. Sepuluh suku di bagian utara memisahkan diri dan pemisahan itu menjadi
parah oleh karena merupakan perpecahan di bidang agama pula, 1 Raj 12-13.
Selanjutnya sejarah kedua kerajaan, yakni kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda,
sejalan dan dikisahkan dalam 1 Raj 14 - 2 Raj 17. Sejarah itu kerap kali terdiri
atas peperangan antara kedua kerajaan bersaudara itu dan berbagai serangan dan
penyerbuan dari luar, yaitu dari pihak Mesir terhadap kerajaan Yehuda dan dari
pihak negeri Aram terhadap kerajaan Israel. Bahaya meningkat waktu tentara
kerajaan Asyur mulai menyerbu ke jurusan barat, terutama selama abad ke-9, lalu
bahaya memuncak selama abad ke-8 sampai Samaria, ibu kota kerajaan utara,
direbut dan dimusnahkan dalam thn 721 seb. Mas. Kerajaan Yehuda sebelumnya sudah
menaklukkan diri kepada Asyur. Kerajaan Yehuda masih melanjutkan sejarahnya
sampai Yerusalem direbut dalam thn 587. Sejarah itu tercantum dalam 2 Raj
18-25:21. Di situ khususnya diceriterakan masa pemerintahan raja Hizkia, 2 Raj
18-20, dan raja Yosia, 2 Raj 22-23. Kedua pemerintahan itu merupakan masa
kebangkitan semangat kebangsaan dan pembaharuan agama. Peristiwa-peristiwa
politik yang paling penting di zaman itu ialah: serangan raja Asyur, Sanherib,
selama pemerintahan raja Hizkia, yakni dalam thn 701. Dengan penyerbuan itu
Sanherib membalas tindakan Hizkia yang tidak membayar lagi upeti kepada raja
Asyur. Peristiwa penting yang kedua ialah: di masa pemerintahan Yosia kerajaan
Asyur mengakhiri riwayatnya dan diganti dengan kerajaan Kasdim atau Babel (baru).
Raja Yehuda terpaksa menaklukkan diri kepada kuasa yang baru di kawasan timur
itu. Namun tidak lama kemudian raja Yoyakim memberontak. Tetapi segera jugalah
datang hukumannya. Dalam thn 597 seb. Mas. tentara raja Nebukadnezar merebut
kota Yerusalem dan mengangkut sebagian penduduknya sebagai tawanan masuk
pembuangan, 2 Raj 23:36 - 24:17. Sepuluh tahun kemudian raja Zedekia mencoba
merebut kemerdekaan politiknya. Maka untuk kedua kalinya datanglah tentara raja
Nebukadnezar. Penyerbuan itu berakhir dalam thn 187 seb. Mas. dengan
dimusnahkannya kota Yerusalem dan pembuangan yang kedua, 2 Raj 24:18 - 25:21.
Kitab Raja-raja berakhir dengan dua ceritera pendek berupa tambahan, 2 Raj
25:22-30.
Kitab Raja-raja sendiri dengan jelas menyebut tiga
sumbernya, yakni: Kitab Riwayat Salomo, 1 Raj 11:41; Kitab Sejarah
Raja-raja Israel, 1 Raj 14:19, dll; dan Kitab Sejarah Raja-raja Yehuda,
1 Raj 14:29, dll. Tetapi masih ada sumber-sumber lain yang dipergunakan. Di muka
sudah dikatakan, bahwa 1 Raj 1-2 melanjutkan kisah tentang keluarga Daud yang
tercantum dalam 2 Sam 9-20. 1 Raj 6-7 merupakan suatu laporan tentang
pembangunan Bait Allah yang berasal dari kalangan para imam. Kitab Raja-raja
khususnya memafaatkan sebuah kisah mengenai nabi Elia yang agaknya dikarang pada
akhir abad ke-9 seb. Mas., dan sebuah kisah mengenai nabi Elisa yang dikarang
tidak lama kemudian dari itu. Kedua kisah tsb menjadi sumber sejumlah ceritera
mengenai Nabi Elias, 1 Raj 17 - 2 Raj 1, dan sejumlah ceritera tentang Nabi
Elisa, 2 Raj 2-13. Adapun ceritera-ceritera tentang pemerintahan raja Hizkia
yang menampilkan nabi Yesaya, agaknya berasal dari kalangan murid-murid nabi itu,
2 Raj 18:17 - 20:19.
Sejauh sumber-sumber yang dimanfaatkan mengizinkannya
kisah-kisah mengenai peristiwa-peristiwa yang tercantum dalam kitab Raja-raja
diberi rangka yang sama: masa pemerintahan masing-masing raja diceriterakan
sendiri-sendiri dan secara lengkap dari awal serta akhir masing-masing ceritera
dirumuskan dengan ungkapan-ungkapan yang hampir sama. Di dalamnya terungkap
penilaian keagamaun terhadap tingkah laku raja yang bersangkutan. Semua raja
kerajaan di utara dikutuk. Sebab pemerintahan mereka semua dinodai oleh semacam
“dosa asal”, yaitu pembangunan bait suci di Betel oleh raja Israel yang
pertama. Dan raja-raja Yehuda hanya delapan saja yang dipuji oleh karena setia
kepada penetapan-penetapan Yahwe. Tetapi sampai enam kali pujian itu diperlemah
dengan catatan, bahwa “bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkannya”. Hanya
raja Hizkia dan raja Yosia mendapat pujiun dengan tidak bersyarat.
Penilaian positip dan negatip terhadap raja-raja itu sudah
barang tentu diinspirasikan oleh hukum kitab Ulangan yang menetapkan, bahwa
hanya diperbolehkan satu bait Allah saja. Selebihnya, ditemukannya kitab Ulangan
di masa pemerintahan raja Yosia serta pembaharuan agama yang dijiwai oleh kitab
itu merupakan puncak seluruh sejarah sebagaimana disajikan kitab Raja-raja.
Memang kitab Raja-raja justru mau membuktikan kebenaran tema pokok kitab Ulangan,
seperti dengan jelas terungkap dalam 1 Raj 8 dan 2 Raj 17. Tema pokok itu ialah:
Apabila melaksanakan perjanjian yang diikatnya dengan Allah, umat diberkati;
sebaliknya, mana kala perjanjian itu dilanggarnya, tidak dapat tidak ia dihukum.
Pengaruh tradisi Ulangan terasa setiap kali penyusun kitab Raja-raja sendiri
mengembangkan sumber-sumber yang dimanfaatkan, atau memberi komentarnya.
Boleh jadi, bahwa terbitan pertama kitab Raja-raja yang
disusun dalam tradisi Ulangan dikerjakan sebelum raja Yosia gugur di Megido
dalam thn 609 seb. Mas. Pujian yang diberikan kepada raja itu dalam 2 Raj 23:25
(kata-kata terakhir harus dihilangkan) merupakan kata penutup terbitan pertama
itu. Terbitan kitab Raja-raja yang kedua juga berasal dari tradisi Ulangan dan
agaknya dikerjakan sesudah masa pembuangan, tegasnya sesudah thn 562 seb. Mas.,
kalau bagian penutup yang sekarang terdapat dalam 2 Raj 25:22-30 dihubungkan
dengan terbitan kedua itu. Apabila 2 Raj 25:21 dipandang sebagai kata penutup
asli terbitan yang kedua itu — dan ayat itu memang berupa kata penutup kitab
— maka terbitan itu harus ditanggalkan sebelumnya sedikit. Sebab 2 Raj 25:21
hanya memberitahukan pembuangan kedua dengan tidak berkata apa-apa tentang apa
yang terjadi di masa pembuangan. Tetapi baik di masa pembuangan maupun
sesudahnya kitab Raja-raja masih dibrii beberapa tambahan.
Kitab Raja-raja tentu saja harus dibaca sesuai dengan maksud
para penyusunnya, yaitu sebagai sejarah penyelamatan. Sikap masa bodoh yang
tidak tahu terimakasih yang menjadi sifat umat terpilih; kemusnahan yang
benturut-turut dialami kedua bagian bangsa, seolah-olah menggagalkan rencana
Allah. Tetapi selalu ada sejumlah orang beriman yang tidak bertekuk lutut di
hadapan Baal, suatu sisa Sion yang setia pada perjanjian. Dan mereka itulah yang
menjadi penerus rencana Allah dan menjamin masa depan. Kemantapan
keputusun-keputusan ilahi terutama nyata dalam keturunan Daud yang secara
mengherankan tetap tinggal dan menjadi pewaris janji-janji tentang Mesias di
masa mendatang. Kitab Raja-raja dalam bentuknya yang paling akhir diakhiri
dengan catatan mengenai belas-kasihan Ewil-Merodakh, raja Babel, terhadap raja
Yoyakhin yang merupakan fajar masa depan yang menyingsing.
|